Senin, 05 Maret 2012

CERPEN 2

 DI PUSARA DAN IMPIAN

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

“Semakin hari masalah hidup ini semakin sulit saja untuk aku jalani,” keluhan itu keluar dari bibir Laura yang selalu dikagumi oleh para siswa sekolahnya. Berdiri dengan mata yang tajam di sisi jendela kelas sambil melihat luas ke arah langit yang membiru seraya tenggelam dengan lamunan yang tak menentu.

“Ayo .... yooooyou, lagi mikiran siapa tow? Pasti mikiran si doinya nich!” tegur Ika dengan nada candanya saat menghampiri Laura.

“Aduh, Ka ....kamu membuat jantungku bak terempas di bebatuan saja. Minggir kamu, aku mau ke kantin,” kata Laura, karena marah dikejutkan oleh Ika sambil pergi menuju kantin yang berada di pojok kiri pas sebelah kelasnya.

“Loh, kok ngambek manis! Bentar dong, mo kemana? Aku ikut.” Ika buru-buru mengikuti Laura.

Di dalam riuh kantin Mbok Nah dengan suara lantang anak bangsa yang serba kelaparan, tidak membuat suasana Laura berubah. Matanya yang tajam membuat Ika merasa kebingungan dan tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sory?” Cuma itu yang bisa diucapkan Ika. Namun Laura tetap membisu sambil mengunyah kerupuk pisang kesukaannya.


Beberapa menit berlalu tanpa ada jawaban yang jelas dari Laura, sehinga membuat dua sahabat itu seperti orang yang belum kenal sama sekali. Bel sekolah berbunyi, saatnya anak-anak bangsa harus memulai menuntut ilmu dari guru.
Detik, menit kian berlalu diheningkan para anak bangsa yang menuntut ilmu, terkadang adanya soalan bahkan jawaban yang dilontarkan dari mulut ke mulut membuat heningan berubah menjadi gemuruh menandakan tingginya semangat belajat para anak bangsa tersebut.
“Ting....tong....ting... tung ....rek ....rek ....rek” itu bukan bunyi gendang atau penjual es tontong, tapi itulah bunyi bel sekolah yang kehabisan batre menandakan pulang.

Seruan kegirangan anak bangsa menuju arah pulang ke rumahnya masing-masing. Terlihat di depan pagar sekolah seorang wanita menunduk lemas seperti kehilangan sesuatu yang berharga. “Baaa....ada yang jatuh Mbok, atau lagi nungguin taksi ya?” kata Laura kepada Ika, sahabat karibnya itu.

“Idih Laura, kenapa sih loe jahat banget sama aku.”
“Boro-boro bila gue jahat, emang siapa bilang?”
“Aku yang bilang, habis loe tadi nggak mau bicara, malah bawaaannya cemberut aja,” jelas Ika.

“Oo.... itu tho, biasa mut gue lagi nggak enak aja, balas Laura sambil berlari menuju rumahnya. Sedangkan Ika cuma bisa berteriak “tungguuuuu” sambil berlari mengejar Laura. Rumah Laura dan Ika berdekatan. Merki jarak sekolah dengan rumah mereka jauh, tapi kedua gadis itu tidak pernah mengeluh untuk terus menuntut ilmu, walau hanya berjalan kaki.

Selang beberapa minggu tibalah minggu tenang yang bisa digunakan para siswa untuk menghadapi ujian nasional. Hari semacam ini adalah kesempatan siswa kelas III untuk libur sekolah dan belajar di rumahnya masing-masing.
“Assalamualaikum....ada anak manis datang nich, ada Laura si jelek di rumah?” tiba-tiba suara itu muncul di depan rumahnya.
“Wa’alaikumsalam. Siapa sih Ra? Coba sana lihat,” suruh Ibu Laura yang sedang duduk di kursi teras belakang rumah.

“Biasa Bunda, siapa lagi kalau bukan si sentil Ika. Baiklah Bunda, Ra pamit ke depan dulu.” Laura pun meninggalkan Bundanya dan menuju ke ruangan depan dengan berjalan perlahan-lahan dan terinjit-injit menghampiri pintu.
“Ayoo....orang sentil datang bakalan rubuh rumah gue!”canda Laura sambil membuka pintu rumahnya. Ika yang berdiri sambil bernyanyi-nyanyi kecil kaget, sehingga latahnya pun keluar.

Laurapun mempersilakan sahabatnya itu masuk dan membawanya ke kamar. Memang, keakraban mereka seperti tak terpisahkan lagi. Karena mereka sejak kecil sudah bersama, malahan tanggal kelahiran merekapun sama , cuma waktu dan tempat saja yang berbeda. Laura sudah menganggap keluarga Ika seperti keluarga sendiri, begitu juga sebaliknya.

“Ra, nggak sadar ya kita udah mo ujian, kalau mikir hasil ujian nanti, jantung gue dek-dekan,” kata Ika saat berbaring di kasur milik Laura sambil memeluk boneka kesukaannya, yaitu Boneka Panda yang sebesar Baby berumur tujuh bulan.
“Makanya jangan dipikirkan terus, yang penting belajar yang benar dan usahakan semampunya agar bisa menjawab dengan tepat. Semua orang kalu dipikir pasti gitulah hasilnya,” terang Laura sambil menyisir rambutnya yang panjang terurai lurus.
“Kamu serius amat sih Ra, sedangkan amat aja nggak nyeriusin,” canda Ika sambil cekikikan tertawa.

Ika memang sudah wataknya begitu, sukanya sudah serius ngomong, ujung-ujungnya ngawur membuat Laura menarik napas panjang-panjang.
“Waduh,” keluar nada itu dari bibir manis Laura.
“Lo...kok ngeluh. Emangnya ada apaan nih cantik? Dari kemarin kamu kayak orang yang tak punya semangat aja.”

“Haaa....haaa.....haaa” Laura tertawa sejadi-jadinya, sehingga meneteskan air mata di pipinya yang merah, sehingga membuat sahabatnya itu keheranan.
“Lebih baik gue pulang aja daripada ngobrol sama orang yang sakit jiwa begini,” kata Ika sambil meninggalkan Laura sendiri. Tawa Laura yang begitu, karena melihat celana pendek yang dipakai Ika saat itu terbaik, malahan yang lucunya lagi dia menggunakan celana yang sobek.

“Mungkin kalau Ika tahu dia bisa malu sendiri,” Laura berkata dalam hati.
Ujian sekolahpun sudah dijalani kedua gadis cantik itu dengan mendapatkan hasil yang bagus. Namun di wajah Laura bukan menunjukan kegembiraan, tapi malahan sedih. Kenapa tidak, yang dipikirkan Laura hanya ada bayangan Bunda tercintanya.
Sudah hampir dua tahun Bunda gadis itu mengidap penyakit yang sangat serius, dan kata dokter pun Bundanya tidak bisa diobati melainkan pasrah kepada Yang Maha Kuasa saja. Ayah Laura sudah lama meninggal dunia semenjak Laura di bangku Sekolah Dasar kelas 6. Semua biaya keperluan rumah termasuk biaya sekolah Laura selama ini Bundanyalah yang menanggung dengan hasil menerima upah menjahit pakaian.
Laura akan satu-satunya tugasnya hanyalah menuntut ilmu. tapi setelah menamatkan sekolah ini Laura bingung, apakah ia melanjutkan lagi ke perguruan tinggi atau hanya sampai di sini saja dan membantu Bundanya untuk mencari nafkah hidup mereka.
“Bunda, bagaimana kalau Ra nggak melanjutkan ke perguruan tinggi lagi?”
“Loh .. kenapa harus begitu?” jawab Bunda Laura kaget mendengar omongan anak yang disayanginya tersebut.

“Bukan begitu Bunda, bukankah Ra sudah menamatkan SMA, Ra rasa itu udah cukup pengalaman buat Ra untuk mengetahui jalan hidup dan pedoman untuk menuju kebaikan. Selain itu, Ra nggak sanggup melihat Bunda harus bersusah payah sendiri untuk membiayai kehidupan kita yang cukup besar Bun? Kalau Ra nggak melanjutkannya tentu Ra bisa membantu Bunda!”

Sesaat Bunda gadis itu manis itu hanya terdiam mendengar ucapan anaknya.
“Tidak, Bunda rasa apa yang kamu pikirkan adalah salah. Bunda berkeinginan kamu bisa menjadi orang yang sukses, bukan seperti Bunda sekarang ini, meskipun Ayahmu tidak lagi bersama kita, tapi bagi Bunda hanya kamu yang bisa buat semangat hidup Bunda sampai sekarang. Bagaimanapun Bunda ingin sekali melihat anak gadis Bunda menjadi orang yang sukses. Seandainya Bunda tidak sempat melihat kamu sukses, namun di alam baka sana Bunda bisa tenang nantinya,” nasehat Bunda dengan berlinangan air mata.
“Bun...tidak seharusnya Bunda berkata sedemikian, Laura sangat sayangkan Bunda. Dengan keadaan Bunda yang sedemikianlah Laura tidak mau Bunda terlalu capek untuk semua ini yang seharusnya sudah saatnya Bunda istirahat. Kalau ini keinginan Bunda, Ra berjanji akan berusaha semampu Ra, karena hanya kebahagian Bundalah yang Ra inginkan,” jawab Laura sambil memeluk Bunda tersayangnya.

Kini Laura sudah duduk di bangku perkuliahan. “Ka, gimana dengan tugasnya, apa sudah disiapkan?” tanya Laura kepada sahabatnya yang tidak terpisahkan itu. Sebab di mana Laura sekolah bahkan bermain, Ika pasti ada. Kekompakan kedua gadis itu membuat Bunda Laura ikut merasa bahagia, karena dia berpikir suatu saat dia meninggal nanti Laura masih punya orang yang disayanginya dan memperhatikannya.
“Bundaaaa.....,” jerit Laura sambil menuju Bundanya yang terkapar di lantai dengan mengaduh kesakitan.

“Ada apaan sih Ra,” rasa kaget Ika mendengar Laura menjerit dengan wajah menegangkan.
“Bunda kenapa? kita ke dokter ya Bun, maaafkan Ra, karena tidak di samping Bunda, sehingga Bunda harus tersiksa seperti ini.”
Akhirnya Ika tau kenapa Laura tadi menjerit, setelah melihat yang sebenarnya apa yang terjadi.

Kedua gadis itu buru-buru membawa Bunda Laura ke rumah sakit. Sudah hampir 5 jam Bunda Laura tidak sadarkan diri, sehingga isakan tangis Laura tak henti-hentinya.
“Sudahlah Ra, kita berdoa saja agar semuanya baik-baik saja,” kata Ika memberi semangat kepada Laura.

“Dokter, gimana dengan kesehatan Bunda?” sela Laura. Dokter hanya bisa menarik napas panjang. “Kamu yang sabar ya, semua itu Yang Maha Kuasa yang berkehendak. Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Dengan waktu yang singkat ini pergunakanlah waktumu untuk orang tuamu,” hanya itu yang bisa diucapkan dokter kepada Laura sambil meningalkan ruangan kamar rawat Bunda Laura saat itu.

“Bun, apakah itu Bunda, Bunda ini Laura. Alhamdulillah ...... Ra baik-baik saja Bun, syukurlah Bunda sudah sadar.” Kegembiraan di raut wajah Laura saat itu membuat Ika yang baru saja pulang kuliah datang untuk melihatnya. Sudah sekian lama Bunda Laura tidak sadarkan diri. Baru saja sesaat Bunda Laura sadar, tapi itu hanyalah untuk sesaat dan akhirnyamenghembuskan napas terakhir. Laura hanya terdiam dan kali ini tidak mengeluarkan isak tangis yang kuat buat Bundanya, tetapi hanyalah tersenyum dengan air mata yang hanya berlinang di antara kelopak mata indahnya sambil memeluk Ika yang saat itu berdiri di sampingnya Laura. Laura tau pasti Bunda akan pergi jauh, meskipun tidak tau itu entah kapan waktunya, sebelum Laura sudah siap apa yang akan terjadi, Laura juga senang karena di detik terakhir Bundanya, dia sempat melihat Bundanya tersenyum dan memanggil namanya.

Tidak sadar hampir 5 tahun kepergian Bunda Laura, dan kin Laura sudah menyelesaikan kuliahnya dengan gelar Sarjana Kedokteran. Selama ini Laura kuliah di jurusan kedokteran dan berniat meskipun belum bisa untuk menjaga dan mengobati penyakit Bundanya, tapi suatu saat dia bisa menolong orang lain dengan kemampuannya.
“Bunda, lihatlah kini Ra sudah mewujudkan impian Bunda, meski Bunda di sana Ra nggak tau gimana, tapi Ra yakin pasti Bunda bahagia. Meskipun Ayah dan Bunda jauh di sana, tapi Ra merasakah kalian selalu ada di hati Ra. Impian ini semua yang Ra lakukan hanyalah untuk kalian, semoga kalian tenang di alam sana.” sela Laura yang saat itu berada di pusara Bunda dan Ayahnya yang saling berdekatan.

CERPEN

Kutitipkan cintaku pada-Mu

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Muhammad Aqil Al Fatih... Itu nama salah satu mahasiswa sekaligus seniorku. Mahasiswa lain biasa memanggilnya ‘Aqil’, tapi tidak denganku, aku lebih senang memanggilnya ‘Alfath’. Kebiasaanku mengganti nama orang memang sudah melekat kuat pada diriku.

Semua berawal dari PROSPEK. Kebetulan aku mahasiswa baru disalah satu Universitas Islam di kota Sangatta Kaltim. Jadi mau tidak mau aku harus mengikuti “Program Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus” (PROSPEK). Oh iya, namaku ‘Azzna’, nama yang diambil dari nama depan dan akhiran, begitulah orang-orang mendeskripsikannya.

Lengkapnya ‘Azzatul Khusna’. Waktu itu tepat seorang panitia prospek berteriak nyaring disampingku. ‘Owh My God, very noisy...!!!’ hanya kata itu yang aku ucapkan dalam hati. Setelah aku membelokkan kepalaku kurang lebih berbelok 90 derajat, kira-kira segitulah, karna aku juga tidak sempat mengukur berapa derajat kepalaku berbelok. Seorang laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi, berhidung mancung dan kalau aku bandingkan dengan laki-laki kebanyakan, dia termasuk laki-laki yang berkulit putih bersih, wajahnya terlihat sangat kalem dan religius.

Tapi lupakan dulu gambaran dari panitia yang aku ceritakan tadi, karna aku juga bukan type-kal cewe yang selalu menomor satukan fisikly. Dan semenjak itu ada kebencian yang tertanam dihatiku. Aku hanya kurang suka dengan sikapnya itu, aku tidak suka ada orang yang berteriak didekatku.

Waktu terus berjalan, dari prospek hari pertama, hari kedua, hari ketiga, dan aku merasa ada yang aneh denganku. Diam-diam aku suka memperhatikan seniorku itu, bahkan dengan berbagai alasan aku mendekatinya, tidak bisa disebut mendekatinya juga, karna aku hanya ingin melihatnya lebih dekat, paling tidak dari jarak yang tidak lebih dari satu meter. ‘sampah’.. yahh hanya itu yang bisa aku jadikan alasan. Dia berdiri tidak jauh dari tong sampah berukuran sedang, dua kali aku mondar-mandir memungut kertas/ plastic yang tidak terpakai, jelas memang aku seperti orang yang kurang kerjaan, tapi aacchhh.. aku tidak peduli, aku hanya ingin melihat kakak senior, just it.

Tiba waktunya para mahasiswa baru (peserta prospek., termasuk aku) harus meminta tanda tangan panitia-panitia prospek. Banyak panitia yang baik hati memberikan tanda tangannya tanpa si mahasiswa harus bersusah payah menuruti satu persatu perintah dari panitia. Tapi sepertinya hanya aku yang aneh, aku sibuk mencari dimana keberadaan salah satu panitia disana. Alhamdulillah, aku melihatnya, ‘Thanks God’, aku langsung mendekati rerumunan mahasiswa yang sedang asik meminta tanda tangan dari seorang panitia. Dan kini bukan satu meter lagi jarak aku dengan panitia itu.

Aku bisa melihat jelas wajahnya, dia berada tepat dihadapanku, aku melihat dia bertanda tangan atas nama ‘Muhammad Aqil Al Fatih’. Itu dia namanya, sekarang aku tau siapa namanya. Nama yang indah seperti keindahan yang terpancar dari wajahnya. Dan otomatis, aku tidak mau melewatkan kesempatan itu, setelah mendapat tanda tangannya, aku masih tetap berdiri tegap disana, memandangnya dengan kekaguman yang luar biasa, mengagumi ciptaan Allah dengan jantung yang terus berdetak kencang.
Prospek hari ke’empat, sekaligus prospek terakhir yang kami ikuti, aku dan mahasiswa lainnya, senang, sedih bercampur seperti gado-gado yang tidak enak dibenakku. Pukul dua siang, seorang dosen memberikan materi terakhirnya. Aku mendengarkan dengan seksama, tetapi otakku terhenti saat aku menyadari ‘Muhammad Aqil Al Fatih’ berdiri disamping kursi yang sedang kududuki. ‘Astaga, Kak Alfath’,.. aku terpekik pelan, aku terlalu senang dengan detik ini, detik yang memporak-porandakan otak dan hatiku. Dan bukan lagi seperti gado-gado yang bercampur aduk, melainkan seperti tomat yang diblender, berkolaborasi dengan gula, air, es batu yang teraduk dalam satu tempat. (huuuhhhh.. ...) aku menarik pelan nafasku dan mulai mencari inspirasi untuk memunculkan ide-ide konyol sesion 2, selain ide sampah kemarin. (Ohh inspirasi.. datanglah.. datanglah..)

Aku menjatuhkan pulpenku, bertujuan agar Kak Alfath bersedia mengambilkan untukku, dan sial.. pulpen itu tidak bisa diajak kolaborasi dengan baik. Ntah apanya yang salah, tanganku yang terlalu berdosa atau memang pulpenku yang sedang tidak mood bekerjasama denganku. Pulpen itu meluncur dengan tidak terkontrol. Alhasil, seorang laki-laki bertubuh besar yang duduk didepanku berbaik hati mengambil pulpen itu untukku. ‘makasih’.. itu yang aku ucapkan pada laki-laki itu dengan imbuhan senyum kecut yang sok’ manis.

Berhubung hari terakhir prospek, jadi malamnya diadakan acara ‘malam penutupan prospek’. Panjang ceritanya aku bisa dapat nomor HP Kak Alfath, tetap dengan berbagai alasan konyol, yang intinya, seusai prospek aku sudah ber’sms’an dengannya, yang aku tau sekarang, dia orang yang cukup pendiam, kaku seperti robot, atau memang karna aku yang belum mengenalnya lebih dekat. Tapi tenang saudara-saudara, sikap Kak Alfath yang seperti itu tidak lantas mematahkan semangatku.

Kampus mengadakan kemah mahasiswa disebuah pedesaan selama empat hari. Selama kemah mahasiswa itu, aku semakin menambah pengalaman dan wawasanku. Berbaur dengan warga sekitar, sangat menyenangkan. Terlebih lagi dengan adanya Kak Alfath, meski ada dia, tidak setiap saat aku bisa bertemu dengannya. Kami memang ber’sms’an, tapi bukan berarti kami jadi dekat, yang seperti aku bilang tadi, Kak Alfath seperti robot, tidak asik, kalaupun tidak sengaja aku bertemu dengannya, tidak ada tegur sapa sama sekali. Lambat laun, masih melalui sms, aku mulai tidak canggung lagi, obrolanku juga agak menjurus kearah rayuan, aku tidak peduli, aku bukan orang yang gengsi untuk merayu lawan jenisku, jelas yang aku maksud disini bukan rayuan seperti perempuan genit, nakal atau sebagainya. Kalau tidak percaya, aku akan beri salah satu rayuan terbaikku itu,

“Ehm.. kalau boleh jujur, ada satu hal yang aku suka dari kakak, aku suka mata kakak, indah,, bersinar,, aku boleh panggil kakak bintang?”. . gimana menurut kalian? Bukan seperti perempuan genit yang berusaha menggoda lawan jenisnya kan? Dari situ Kak Alfath mulai merespon, aku tidak tau itu harapan atau hanya sekedar formalitas saja. Kak Alfath juga mulai tidak canggung membalas kata-kataku, kami bisa lebih saling mengenal satu sama lain, dengan berbagai pertanyaan yang bertujuan memancing sang idolapun kukerahkan satu persatu, hingga aku tau banyak tentang Kak Alfath, dari makanan favorit, minuman favoritnya sampai hal terkecil aku berusaha untuk mengetahuinya. Dia terlihat lebih menyenangkan bila seperti ini.

And all my love
I’m holding on forever
Reaching for the love that seem
So far..
So i say a little prayer
Andhope my dream will take me
There
Where the skies are blue
To see you once again my love
Oversees from coast to coast
To find the place i love the most
Where the fields are green
To see you once again my love


Lirik lagu favoritku ‘westlife-my love’ persis menggambarkan perasaanku saat ini.
Empat hari berlalu, ‘kemah mahasiswapun hanya bisa dikenang. Akhirnya aku kembali dirumah. Aku masih bingung dengan perasaanku kepada Kak Alfath. Aku terus memikirkannya, dan itu membuat hatiku tidak tenang. Seusai shalat maghrib, aku menengadahkan tanganku pada-Nya.

“Ya Allah,, Ya Rob,, nama Kak Alfath sungguh semakin melekat dihati ini, kebencian yang pernah tertanam pada diri hamba kepada Kak Alfath sudah tidak ada dihati hamba, kebencian itu lantas menjadi jembatan untuk hamba masuk kedalam hati Kak Alfath, tentu hamba hanya ingin selalu melihat Kak Alfath dalam keadaan yang baik, berikanlah yang terbaik untuknya, amiinn..”

Didalam bait doaku, aku selalu melampirkan nama Kak Alfath, perasaanku akhir-akhir ini gelisah tidak melihat Kak Alfath. Ini pertama kali aku merasakan hal aneh seumur hidupku. Apa aku jatuh cinta? Ntahlah.. sepertinya begitu. Semakin hari aku semakin tersiksa dengan perasaan ini, aku menangis dalam keheningan malam-malamku. Dadaku terasa sesak bila terus-terusan sepeti ini, cinta pertama yang kualami terasa menyesakkan. Bukan hanya perasaanku, tapi semua yang aku punya untuk mencintai Kak Alfath, semuanya terasa sakit. Kembali aku berdoa pada shalat tahajud yang aku lakukan,

“Maha Suci Allah.. Engkau yang tau perasaan hamba, sungguh sampai detik ini, hamba tidak bisa berhenti memikirkan Kak Alfath,” tanpa kusadari air mata jatuh tepat dimukena putih yang aku kenakan. “Apa hamba salah jika hamba mengharapkan Kak Alfath mempunyai perasaan yang sama? Apa hamba terlalu egois jika hamba berpikir seperti itu? Tunjukan jalanmu Ya Allah..”

Tidak bisa memiliki orang yang kusayang, terlebih lagi ini cinta pertamaku, itu sangat menyedihkan. Apa yang harus kulakukan agar Kak Alfath bisa sedikit membuka hatinya untukku?

Kurang lebih beberapa hari ini aku mencari tau informasi tentang Kak Alfath melalui teman-teman seangkatannya. Kini aku tau, perempuan seperti apa yang bisa menarik hatinya. Aku memulai dengan merubah penampilanku menjadi lebih feminim, semua orang tau aku bukan perempuan yang bisa dikatakan feminim, bahkan sangat jauh dari itu, aku lebih sering memakai rok sekarang, walaupun itu tidak nyaman untukku, tapi kalau dipikir dengan akal sehat, memang bagus merubah diri menjadi yang lebih baik, karna kodrat seorang perempuan harus seperti itu.

Malam ini aku memberanikan diri untuk menanyakan suatu pada Kak Alfath melalui sms yang aku kirimkan padanya, aku juga bukan perempuan yang suka berlama-lama berbasa-basi. Ini sms yang aku kirimkan,

“Kak, apa kakak udah punya pacar?”. Seketika aku merasa bodoh menanyakan hal itu, tapi inilah tujuan utamaku. Azzna bodoh.. apa kamu siap dengan jawaban Kak Alfath nantinya? Bagaimana kalau jawabannya hanya membuat kamu semakin sakit? Apa yang akan kamu lakukan? Menangis dan terus-terusan mengadu pada Sang pemberi hidup? Bisikku pada diriku sendiri. Dengan perasaaan kacau aku menunggu balasan dari Kak Alfath. Getar Hpku menghentikan segala pertanyaan aneh yang meraung-raung meminta jawaban diotakku. Bismillah.... sembari membuka sms itu,

“Iya, kakak sudah punya pacar dik, dikampung.” Degggg.... kali ini bukan lagi sakit yang aku rasa, tapi rasa nyeri yang tidak terkendali, aku merasa berdosa telah menyukai dan berharap pada orang yang notabene sudah menjadi pacar perempuan lain. Air mataku sekejap bercucuran menolak kenyataan ini. Apa aku menyesal bertanya seperti ini? Kenapa aku harus menanyakan hal ini? Kenapa Kak Alfath tidak mengerti perasaanku? Kenapa semuanya tidak berpihak padaku? Berbagai kata ‘kenapa’ memenuhi otakku kini. Sms ini tidak aku lanjutkan, aku tidak mau mendengar pernyataan selanjutnya yang akan Kak Alfath ucapkan. Aku hanya ingin tidur, yahh.. dengan tidur aku bisa melupakan smuanya, sakit hati, air mata, semuanya...

Paginya aku kembali terbangun, tepat setengah empat pagi aku mengambil air wudhu. Shalat tahajudku kali ini terasa berbeda, karna mataku sedikit terjanggal, mataku terlihat sangat sembab, efek dari tangisan semalam. Tiba saatnya aku memanjatkan doa seusai shalat,

“Engkaulah tempat terbaik untuk mengadu, hanya Engkau penenang hati dan jiwaku saat ini, Ya Allah kenyataan ini sungguh sangat menyakitkan, hamba mencintai Kak Alfath sebesar yang Engkau ketahui, atas dasar keridhoanmu, hamba bisa mencintainya seperti ini. Sepenuhnya hamba titipkan cintaku pada-Mu, lindungilah Kak Alfath...”
Satu minggu setelah itu, aku mendapati kabar bahwa ayahku harus berpindah kerja di Jambi, aku dan keluargaku terpaksa ikut pindah, dan kuliahku juga harus terhenti, mungkin aku memang harus memulainya dikota lain, karena ayah akan menetap kerja di Jambi, jadi aku tidak takut lagi memulainya dari nol.

Masih ada waktu untuk aku menulis surat untuk Kak Alfath, karna hanya dia yang pertama kali kuingat sebelum perpindahanku.

Paginya pukul tujuh, Airin teman dekatku dikampus kerumah, seperti halnya seorang sahabat, ia menemuiku mengucapkan salam perpisahan sebelum ia pergi kuliah. Tidak lupa aku menitipkan suratku itu pada Airin, Airin yang mengerti benar bagaimana awal cerita aku membenci hingga menyukai Kak Alfath sekaligus sahabat terbaik yang aku miliki.

Mobil avanza berwarna silver milik Om’ku sudah datang, Om’ku yang akan mengantarkan aku dan keluargaku menuju bandara Balikpapan. Pelukan hangat dari Airin membuatku tenang.
“Hati-hati Na.. jaga dirimu baik-baik.. .” ucap Airin padaku dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Rin, jangan nangis ach.. makin jelek tau.” Balasku dengan tetap terlihat cool.
“Sakit ya Na..”
“Aku baik, makanya selalu doakan aku supaya selalu baik agar kita bisa bertemu lagi esok.” Kataku dengan sedikit menahan tangis, meski aku tau yang Airin maksud memang bukan fisikku, melainkan sakit hatiku.

Tepat setengah delapan Aku dan keluargaku berangkat.
Sekarang aku sudah berada dipersimpangan Bontang, Airin pasti sudah bertemu dengan Kak Alfath dan memberikan suratku.

“Assalamualaikum Kak Alfath...
Memory otakku seolah tidak berhenti memutar setiap kenangan tentang Kak Alfath sewaktu aku menulis surat ini. ‘Muhamamad Aqil Al Fatih’.. mungkin ini kali pertama aku menyebut nama kakak, dan aku tidak pernah berharap menjadi yang terakhir kalinya, karna aku berkeinginan suatu saat nanti tepat dihadapan kakak, aku bisa menyebutkan nama kakak dengan lengkap, walaupun hal itu dirasa sulit, karna bahkan aku tidak tau bisa bertemu kakak lagi atau tidak.

Kakak tentu ingat pertama kali aku meminta izin ingin memanggil kakak ‘bintang’..? pada saat itulah aku merasakan perasaan itu, perasaan yang mungkin orang biasa menyebutnya dengan cinta.. . aku cukup senang bisa mengenal kakak, tidak ada sedikitpun penyesalan yang aku rasa. Sampai akhirnya aku tau sudah ada perempuan beruntung yang memiliki kakak. Sumpah, demi tiap tetes air mataku, aku berat menerima kenyataan itu, kenyataan yang menghancurkan hati dan jiwaku. Satu detik dimana aku rasa, aku telah benar-benar mencintai kakak. Tapi ada hal yang paling rendah dan berdosa, yaitu kalau aku iri dengan perempuan yang sudah memiliki hati kakak. Aku sadar, hidup itu pilihan, sama seperti cinta, aku bisa memilih melupakan kakak atau tidak sama sekali, dan dua-duanya tetap ada resiko. Aku hanya ingin melupakan hal yang bisa aku lupakan dan tidak ingin memaksakan diri untuk melupakan hal yang sulit untuk lupakan, dan itu kakak.

Jangan timbulkan pertanyaan knapa aku menyukai kakak, karna sampai nafasku berhenti berhembus, aku tidak akan pernah mengetahui alasan knapa aku menyukai kakak, aku hanya tau sebuah rasa yang tulus ialah seonggok rasa yang tidak beralasan.
Kakak sepeti malaikat untukku, malaikat yang sedikit banyak sudah mengajarkan arti kedewasaan, mengikhlaskan sesuatu yang belum berpihak padaku, berubah menjadi yang lebih baik, dan semuanya. Terimakasih dan maaf.
Wassalam... .”

Dering HP menghentikan lamunanku. ‘Airin’.. . ada apa dia meneleponku.
“Hallo, assalamualaikum ..” ucapku.
“Walaikumsalam.. .Azzna, aku mohon sekarang kamu putar balik, Kak Aqil ingin menemuimu.” Dengan suara yang terdengar terdesa-desa.
“Tapi....”
“Aku mohon. ..” pinta Airin. “Hanya kali ini, aku yakin keluargamu akan mengerti.”

Lima menit lamanya aku berhasil membujuk orang tua dan Om’ku. Setelah setengah jam perjalanan, aku sampai diKampus, karna tadi Airin sempat sms menyuruhku langsung ke Kampus. Jantungku berdegup kencang sekali. Didepan salah satu ruangan, aku melangkahkan kakiku perlahan. Banyak orang disana, terlihat Airin menghampiriku.
“Azzna..,..” kemudian Airin terdiam.

Langkah kakiku membuat orang-orang disana beralih melihat kearahku. Aku melihat seorang laki-laki terbaring lemah ditengah-tengah rerumunan orang yang sekarang melihat kearahku. Aku mendekati laki-laki itu, jantungku tidak lagi berdegup kencang, tapi serasa berhenti melihat laki-laki yang sekarang sudah berada didepanku. ‘Kak Alfath’.. . wajahnya terlihat aneh.
‘Sabar Na..,’ aku seperti mendengar sayup-sayup suara Airin, dan beberapa isakan tangis orang-orang disekitarku.

“Kak Alfath. .. apa kakak kedinginan? Udara sangat panas diluar, dan bukannya kakak pernah cerita kalau kakak sangat menyukai warna coklat? Kakak bilang hampir semua barang-barang yang kakak punya bewarna coklat, tapi knapa sekarang kakak memakai selimut putih ini?” ucapku.

“Kakak juga berbohong hari ini, kakak juga cerita kalau kakak suka sekali dengan jus jeruk, bahkan kakak bilang selalu menolak jika diberi minuman selain jus jeruk, lalu kenapa air yang menempel dibibir kakak bewarna merah? Itu seperti bukan warna jus jeruk.”

Aku berusaha sedikit mendekatkan telingaku pada hidung mancung Kak Alfath, dan memejamkan mataku, mencoba merasakan hembusan nafasnya.
“Kak, knapa kakak menahan nafas seperti ini? Tolong jawab kak.” Kataku sambil menahan tangis.

“Setelah membaca suratmu, Kak Aqil sudah berusaha mengejarmu Jan, Kak Aqil bilang, dia hanya ingin mendengar smuanya langsung dari kamu, tapi takdir berkata lain, motor yang dipakai Kak Aqil oleng dan smuanya terjadi. Semuanya terlambat sebelum dibawa ke Rumah Sakit.” Ucap Airin dengan sedikit terisak.
Kali ini tangisku benar-benar pecah. .. Aku memang sudah sepenuhnya menitipkan cintaku Pada-Nya.. Kak Alfath pergi untuk selamanya.. .

*THE END *...

Karya: Septhi Permendtkaret

Jumat, 02 Maret 2012

Novel Gratis

Berikut ada beberapa Judul Novel Islami Pembangun Jiwa yang bisa anda baca
Untuk mendownload silahkan klik pada judul masing - masing Novel

1. Dakwaan dr Alam Baka
2. Dibawah Naungan Ka'bah
3. Mawar Mekar bukan Karena Memar
4. Dijamuan Cinta-Mu di Arafah
5. The Girls Of Riyadh
6. Tajmahal
7. Catatan Hati disetiap Sujudku
8. Latahzan For Broken Heart
9. Cinta Lelaki Biasa
10. Rembulan Dimata Ibu
11. Catatan Hati Seorang Istri
12. Dia Dalam Mimpi_Mimpi Rani
13. Takbir Cinta Zahrana
14. Ketika Cinta Berbuah Surga
15. Diatas Sajadah Cinta

demikian dulu Novel Gratis ini, kita sambung di sesi berikutnya ,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Jangan lupa komennya ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...